h1

Hanya Aku yang Gila

29 April 2010

Mengapa di setiap arah pandangan mataku, yang terlihat adalah kabut asap

Dengan sketsa yang nyaris serupa dengan nyatanya

Padahal yang terlihat adalah pola hitam putih yang menegaskan garis-garis abstrak

Ini aneh,

Sepertinya aku benar-benar gila

Pun saat kemarin di tengah keramaian yang mendadak lenyap

Satu per satu ku lihat manusia yang berdasi terhisap ke dalam tanah

Ada yang melotot

Meraung-raung

Dan akhirnya tercekik dasinya sendiri

Ada juga manusia yang berseragam, tubuh tegap dan langkah berdentum

Tiba-tiba bagian tubuhnya terhisap angin ke dalam kamar-kamar langit

Ah…akupun baru tahu rupanya kamar-kamar langit itu

Dan semua mereka menjerit

Semua lenyap, mulai dari penjual buah, penjaja makanan

Tukang tambal ban, pengemis, ibu-ibu dan anak-anak

Semuanya

Semuanya

Hanya aku yang tetap berdiri menonton semuanya

Di sini aku mulai menganggap aku gila

Dan kegilaan ini pun semakin parah

Akut dan kronis menjajah otakku

Bayangkan saja

Lagi-lagi aku menyaksikan pertandingan sepak bola yang dimainkan segerombolan angsa

Padahal harusnya mereka berenang saja

Pasar-pasar dipenuhi tikus-tikus yang mencicit

Sekolah dan rumah kesehatan yang disesaki sekawanan hewan

Belajar membaca dan mencari obat

Gila

Aku gila

Hey, sebaiknya aku ke rumah sakit khusus kejiwaan saja

Aku tahu jalannya

Akan kutanyakan benarkah aku gila

Atau mataku mulai diserang katarak yang mengirimkan halusinasi

“Herannya aku, di sini manusia berkumpul mengadakan arisan”

Iklan
h1

Tentang Ini…

30 Desember 2009

Ini adalah tentang cinta
Tentang benci
Yang mengubah hidup dalam sedetik

Ini adalah tentang ingatan
Tentang kealpaan
Yang membuat kenangan lepas atau bertahan

Ini adalah tentang teman
Tentang musuh
Yang kadang dicari dan dikhianati

Ini adalah tentang jasad
Tentang jiwa
Tentang hati
Tentang rasa
Tentang pikiran
Yang semuanya saling berkait

Ini hanya tentang kejenuhan yang menyampaikan protesnya sebelum pagi merekah
Ini hanya tentang kebersamaan yang mencari celah perekat agar jarang merenggang
Ini hanya tentang kewarasan yang sering dipertanyakan pada sidang-sidang pengadilan
Ini hanya tentang hukuman yang menghukum dirinya sendiri

Ini adalah tentang ketidakberdayaan
Tentang perjuangan
Tentang pengorbanan
Yang akhirnya hanya berujung pada semua tentang kita
Manusia

h1

!!!!!!!!

29 Desember 2009

I WANT MY LIFE BACK


h1

Teriakan Kami

28 Desember 2009

Kami tahu kami tidak punya apa-apa

Kami tahu kami hanya manusia kecil

di tengah-tengah peradaban yang katanya kaya raya

Kami tahu kami dianggap rendah

dibandingkan pria-pria berdasi yang katanya terhormat

Dan kami juga tahu kami terlalu bodoh

untuk mengerti peraturan dan lalu lintas negara

Tapi dari tanah ini kami mulai merangkak

Dari tanah ini kami mulai menapaki hidup

Dari tanah ini kami mulai menanam harapan

Dan dari tanah ini kami menuainya

Tanah yang sama dengan tanahmu

Sama dengan asalmu

Pesisir pantai

Lereng gunung

Bukit batu,

Warisan kami yang terus saja kau gerus

Gerus hingga kau merasa cukup

Tapi sampai kapan?

Bahkan burung hantu pun lelah menunggu

Jangkrik pun enggan berteriak

Dan kunang-kunang pun padamkan diri

Walau kami hanya pengipas daging asap

Pemecah batu penggulung ombak

Penginjak lumpur berwangikan keringat

Kami tetap bagian dari semesta

dan kami bukan hanya untuk bahan berita

Ketika busung lapar menjadi tubuh wajah-wajah kecil

Atau gubuk reot ambruk mengaliri sungai yang tidak lagi jernih

Atau banjir yang membuat hidup kami lebih dangkal

Sekali lagi, bukan untuk berita.

Siapapun kami, apapun kami, kemana pun kami berlari

Kami tetap jasad yang berhati…

h1

Jika Senja Datang……

23 Desember 2009

Bunda…. Sore ini aku melihatmu… Duduk di teras rumah. Sendiri, hanya ditemani secangkir teh hangat dan penganan kecil kesukaanmu.

Aku berhenti melangkah. Ku urungkan niatku untuk berlari menemuimu. Padahal begitu rindunya aku padamu setelah hampir setahun ini aku jauh darimu. Cukup disini, ku berdiri… dan mengharap kau tak melihatku. Hanya untuk saat ini  biarlah aku saja yang menatapmu….

Ahh… Bunda, tatapanmu begitu kosong. Kau hanya menatap lurus ke depan dan sesekali mengusap matamu. Aku terkejut. Sangat terkejut.  Apakah engkau menangis Bunda? Apa yang membuatmu menangis??. Bunda… kakiku semakin ingin membawa tubuhku berlari ke arahmu.

Sepertinya memoriku otakku bekerja cukup lambat untuk memahami makna airmatamu. Tentu saja kau menangis di penghujung hari yang indah  seperti ini. Kau sendiri. Sendiri. Dan kehilangan…

Sepuluh tahun yang lalu suamimu tercinta pergi untuk selamanya. Lalu kau sendiri berjuang demi lima permata hatimu. Bahkan kau rela mengorbankan sedetik waktu luangmu hanya untuk melerai kami -anak-anakmu- yang bertengkar sekedar merebutkan remote TV. Kau sendiri, ketika dengan senyum manismu kau menerima menantu pertamamu. Kau juga sendiri ketika atap rumahmu bocor di musim hujan sementara semua anak-anakmu sedang berada di luar rumah. Kau sendiri ketika mengantarkan si sulung pindah ke rumah barunya.

Hingga akhirnya… Engkau benar-benar sendiri di rumah yang hanya menyisakan kenangan untukmu. Satu persatu permatamu pergi demi masa depan yang mereka rajut sendiri. Apa yang kau rasakan saat itu Bunda. Bibirmu selalu merekah membentuk senyuman. Matamu pun berbinar. Sedihkah dirimu saat itu Bunda? Jika engkau sedih, lalu mengapa tak kau tunjukkan sedikit saja… agar aku mengerti, kau berat melepas anak-anakmu.

Bunda… Aku kembali. Tapi rasanya tak kuasa kukatakan padamu bahwa aku hanya tinggal untuk kembali pergi.  Aku ingin membagi kebahagiaanku bersamamu. Bunda… aku ingin menyunting seorang gadis yang kuharap bisa menjadi teman hidupku selamanya.  Aku ingin mengajakmu memintanya pada orang tuanya. Tapi… itu artinya, aku akan meninggalkanmu demi masa depanku bersamanya, walaupun nantinya kau akan mengantarkanku dengan doa restumu.

Bunda… tubuhku gemetar, menggigil. Rasanya ber ton-ton barbel dijatuhkan ke atas kepalaku. Bodohnya aku. Rasanya aku pantas disebut anak yang tidak berbakti. Bagaimana mungkin aku menjadi makhluk paling egois. Ketika aku sakit, kaulah orang yang pertama kuhubungi. Ketika aku dihadapkan pada masalah, kaulah orang pertama yang kucari untuk membantuku. Kau ada dalam susahku, namun aku tak ada di saat dukamu.

Aku lupa mendengarkanmu. Lupa menanyakan kabarmu, lupa dengan kesehatanmu, lupa akan hal-hal yang selalu kau ingat untukku. Aku lupa, Bunda. Sedangkan kau tidak…

Hari ini, untuk pertama kali kesadaranku sebagai anakmu menghantam hati dan otakku. Air mata mengalir pun aku tak peduli lagi. Meski aku terisak hebat, aku tak peduli lagi. Bahkan aku tak pernah begini di setiap hari yang fitri dimana aku dan saudara-saudaraku memintakan maaf dan ridhamu. Aku tak peduli… aku tak peduli… aku berlari…

“Assalamualaikum, Bunda.” Ku peluk dirimu dengan seluruh penyesalanku. “Maaf kan aku…” Harum tubuhmu pun telah kulupakan. Harum tubuh yang menemaniku di saat aku merengek minta ditemani dalam tidur malam-malamku.

“Bunda selalu memaafkanmu, bahkan sebelum kau memintanya.” Lembut kau memelukku. Telaga apa yang kau punya Bunda? Seluas apa hatimu yang selalu memberikan ruang maaf untukku?

“Duduklah di sini, sejenak saja… sebelum adzan maghrib berkumandang, temani Bunda.” Lalu…mengalirlah kata-kata yang membuatku semakin tergugu…

“Orang tua akan sangat bangga dan bahagia jika anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang mulia.  Pribadi yang berguna untuk orang lain. Bukan hanya untuk diri sendiri, keluarga ataupun orang tua…”

“Bunda ingin sekali menjadi guru yang baik untuk anak-anak Bunda. Kalian adalah amanah dari Allah. Amanah yang akan dimintai pertanggung jawabannya kelak. Menelantarkan kalian adalah berarti menelantarkan amanah dan kepercayaan Allah, dan mendidik kalian dengan pendidikan yang benar berarti mengangkat derajat orang tua dan anak di syurga, Insya Allah…”

Jadi… tidak sedetikpun Bunda merasa harus menahan kalian disisi Bunda jika ada yang lebih membutuhkan kalian. Cukuplah Bunda merasa sangat dibutuhkan ketika kalian masih kecil. Bagaimana tangan-tangan kecil dan mungil menggapai-gapai minta digendong. Mengadu kalau ada yang nakal, minta dimasakin makanan kesukaanya, manja kalau lagi sakit. Itu adalah hal yang tidak akan pernah tergantikan…”

“Bunda ingin sekali… semua anak-anak Bunda tidak menyia-nyiakan kepercayaan Bunda. Bunda telah mempercayakan kalian untuk menafkahi istri, taat pada suami, dan mendidik anak-anak kalian sendiri. Walaupun dengan itu kalian akan berada jauh. Tapi… jika kalian mampu menjalankan amanah itu, Bunda tidak akan pernah meminta kalian untuk terus ada di sisi Bunda. Bunda akan cukup bangga dengan itu…”

“Dimanapun kalian berada, sejauh apapun jarak antara Bunda dan kalian…. kalian tetap anak-anak Bunda, yang akan selalu terikat dengan ikatan darah, cinta dan kasih sayang… Hingga Allah ridha telah mengamanahkan kalian pada Bunda.”

Adzan mangrib pun berkumandang. Dan semakin deras airmata megalir… Ternyata aku sedang berhadapan dengan wanita mulia yang kasih sayang dan ilmunya tidak akan pernah mampu kubayar dengan apapun. Beruntungnya aku memiliki ibu sepertimu…

“Bunda… mari kita sholat berjama’ah.. dan kali ini injinkan aku menjadi imam dalam sholatmu…”

“Rabb… Aku bersyukur kepada-Mu atas kebaikan yang telah Engkau berikan kepadaku dan kebaikan yang telah Kau berikan kepada orangtuaku dan berikanlah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku.

Rabb… Jika aku meminta, maka aku meminta kebaikan yang tidak pernah putus untuk orang tuaku. Sayangilah mereka  dengan kasih sayang yang berlipat ganda… melebihi kasih sayang mereka kepadaku…”

———–

Lama setelah kau pergi… banyak titik cerah yang menuntunku memahami dirimu. Walau ini sangat terlambat, aku bersyukur, tidak sedetikpun aku menyesal menjadi salah satu permata yang kau sayangi.

Walaupun aku kehilangan sosok ayah, kau melengkapinya dengan sempurna…

Kau

adalah samudera terluas tanpa bandingan

melimpahiku dengan rasa yang ku coba mengerti mengapa

menaungiku dengan atap indah yang kau bangun dengan kokoh

menghangatiku dengan selimut yang kau rajut dengan lembut

dan mengingatimu adalah kerinduanku

mengaliri mata dengan bayanganmu

betapa masa lalu itu adalah kenangan

dengan setiap adegan yang telah terhapus tanpa ku minta

ingin ku rengkuh kembali

tapi hanya masa kini yang bisa ku dekap

sejuta kata mungkin akan percuma

seribu ikat mawar mungkin tidak akan bermakna

walau seluruh taman dunia kususuri

dan kukumpulkan rangkaiannya dalam jemari

jika malam telah tiba

kuhampiri wangi tubuhmu, kugapai dekapan hangatmu

meski tak lagi bersama namun tak akan lekang kenanganku akan dirimu

hingga saat ini pun ku merindukanmu…

Bunda…

Bunda… Jika senja datang menghampiriku, aku akan berada di teras rumah ini. Dengan secangkir teh dan penganan kesukaanku. Akan ku ceritakan pada anak dan cucuku, dulu kita sering menghabiskan senja di sini. Menatap kupu-kupu yang menari-nari di kelopak mawar dan melati. Duduk di kursi yang sama, dan mengingat kebersamaan kita.

Bunda… untuk semua kasih sayangmu… aku menyayangimu.

h1

Suratku Bertanya

28 Agustus 2009

Hari ini kutulisi pasir dengan pena ranting tanpa tinta

Bertanya ku tentang hutan gersang di tengah benua

Tentang sungai kering yang bermuara ke laut

Tentang gurun pasir yang menyajikan fatamorgana

Tentang mutiara kusam di tengah samudera

 

Adakah semua itu bagian dari babak kehidupan

Ataukah adegan yang dipandu sutradara

Dengan diriku yang turut menjadi pemerannya?

Lalu kukirimi menjadi lembaran surat

Kutujukan pada mega, pada buih

Dan pada layang-layang yang bergantung pada lembayung senja

Ku berharap ada balasan

Tapi laut datang menghampiri dan memberiku jawaban:

“Dia telah memberikan semuanya, namun tidak ada yang kau sisakan

Alam tidak tunduk padamu tapi padaNya”

Dan dengan ombak kecilnya dia berseru

“Tidak perlu kau tunggu, aku telah mengirimkan balasan dari-Nya”

 

 (Tsunami, 26 December 2004)

h1

AKU MEMULAINYA DARI SINI

21 Agustus 2009

 Menyakitkan,

Mataku tidak mampu mengikuti siang menembus malam

Hanya terpejam,

Dengan bayangan gelap kelabu

Menyapu pandangan mata dalam alam pikiran yang melelahkan

Padahal hanya sebaris kata yang terekam jelas tanpa wujudnya

Mengoyak ingatan dengan busa kepedihan yang menyesakkan

Kembali ku pejam

Tapi tak pernah bisa ku hilangkan

 

Jejak sang bayangan terus saja mengikuti

Bahkan terasa semakin nyata dengan seringai yang menyeramkan

Berambut panjang terjuntai hingga ke tanah

Menyeret kaki telanjang dan busuk mengenaskan

Berbalut cairan hitam pekat di sekujur tubuh

Setankah dia?

Ku rasa hanya bayanganku yang ku coba jauhi

Kembali ku pejam

Tapi selalu datang kembali

 

Jam pun berdentang dalam hening yang senyap

Tapi masih saja ada yang menari-nari dengan iringan musik yang menghentak

Berputar-putar

Mengelilingi tubuhku yang gemetar beku ketakutan

Lalu berhenti

Ternyata tidak

Bahkan mulai menyulam kebencian yang ditujukan untukku

Meneriakiku dengan lengkingan yang memecah gendang telinga

Suara setankah itu?

Ku rasa suaraku sendiri yang ku coba telan dalam mulutku

Kembali ku pejam

Tapi tak juga bisa ku hindari

 

Apa ini Tuhan?

Apa yang Kau coba perlihatkan padaku?

 

Nafasku kian tersengal

Tak sedetik pun sang bayangan beranjak pergi

Terikat denganku

Menebar aroma dusta yang kurangkai bertahun-tahun

Mengaliri jalan darah ku yang berbau tajam

Menggasak habis isi perutku yang basi

Melekatkan dengki yang mematikan hati

Dan ku tahu pasti, itu semua karena ulahku

 

Apa ini Tuhan?

Apa yang Kau coba tunjukkan padaku?

 

Baiklah, aku menyerah

Kan kuberikan jasad nyawaku

Dengan kemudi doa

Semampu kekuatan hatiku

Tapi tidak sekarang

Bukan ini akhir yang kuperjuangkan

Ada yang harus kutunaikan untuk jasad nyawaku

Memberinya keikhlasan sebagai ciptaan Rabb ku

 

Lihat saja

Kan ku balut sang bayangan dalam jeruji besi

Simpul erat jangan sampai terlepas

kulempar

Untuk mendekam dalam sudut yang paling jauh dari hati, pikiran dan ingatanku

 

Kan ku undang bayangan lain yang lebih bersih dari bayangan lalu

Bersamaku

Menapaki waktu dalam sunyi bermakna

Dalam hening yang mengirimkan cinta dan doa

Menunduk, ruku’ dan sujud menyembah mengagungkan

Menyusuri baris demi baris firman Nya dengan terang lentera

Membangun jembatan menuju nuur, ‘alan nuur

Hingga ketika ku merindukanMu, tinggal menapakinya saja

 

Tak akan ada lagi tanya

Apa ini Tuhan?

 

Telah kumengerti semuanya

Shalatku

Ibadahku

Hidupku

Matiku

Hanya untuk Mu

 

Untukmu sang bayangan dekil dan bernoda

Kan ku ambil hikmah kedatanganmu

Kau hanya memperingatkanku dan bukan menakutiku

Walau sudah setengah hidupku kulalui bersamamu

 

Hingga saatnya tiba

Ketika sang malaikat datang menjalankan tugasnya padaku

Ku sambut dengan salam

Dalam akhir yang benar-benar kuperjuangkan

Walau dalam sekarat

Walau dalam kesendirian

Tapi tidak dalam keputus asaan

Nafsu, muthmainnah

Kembali pada Tuhan

Dengan ridha, dan di ridhai-Nya