Archive for the ‘Catatan Kecil’ Category

h1

Jika Senja Datang……

23 Desember 2009

Bunda…. Sore ini aku melihatmu… Duduk di teras rumah. Sendiri, hanya ditemani secangkir teh hangat dan penganan kecil kesukaanmu.

Aku berhenti melangkah. Ku urungkan niatku untuk berlari menemuimu. Padahal begitu rindunya aku padamu setelah hampir setahun ini aku jauh darimu. Cukup disini, ku berdiri… dan mengharap kau tak melihatku. Hanya untuk saat ini  biarlah aku saja yang menatapmu….

Ahh… Bunda, tatapanmu begitu kosong. Kau hanya menatap lurus ke depan dan sesekali mengusap matamu. Aku terkejut. Sangat terkejut.  Apakah engkau menangis Bunda? Apa yang membuatmu menangis??. Bunda… kakiku semakin ingin membawa tubuhku berlari ke arahmu.

Sepertinya memoriku otakku bekerja cukup lambat untuk memahami makna airmatamu. Tentu saja kau menangis di penghujung hari yang indah  seperti ini. Kau sendiri. Sendiri. Dan kehilangan…

Sepuluh tahun yang lalu suamimu tercinta pergi untuk selamanya. Lalu kau sendiri berjuang demi lima permata hatimu. Bahkan kau rela mengorbankan sedetik waktu luangmu hanya untuk melerai kami -anak-anakmu- yang bertengkar sekedar merebutkan remote TV. Kau sendiri, ketika dengan senyum manismu kau menerima menantu pertamamu. Kau juga sendiri ketika atap rumahmu bocor di musim hujan sementara semua anak-anakmu sedang berada di luar rumah. Kau sendiri ketika mengantarkan si sulung pindah ke rumah barunya.

Hingga akhirnya… Engkau benar-benar sendiri di rumah yang hanya menyisakan kenangan untukmu. Satu persatu permatamu pergi demi masa depan yang mereka rajut sendiri. Apa yang kau rasakan saat itu Bunda. Bibirmu selalu merekah membentuk senyuman. Matamu pun berbinar. Sedihkah dirimu saat itu Bunda? Jika engkau sedih, lalu mengapa tak kau tunjukkan sedikit saja… agar aku mengerti, kau berat melepas anak-anakmu.

Bunda… Aku kembali. Tapi rasanya tak kuasa kukatakan padamu bahwa aku hanya tinggal untuk kembali pergi.  Aku ingin membagi kebahagiaanku bersamamu. Bunda… aku ingin menyunting seorang gadis yang kuharap bisa menjadi teman hidupku selamanya.  Aku ingin mengajakmu memintanya pada orang tuanya. Tapi… itu artinya, aku akan meninggalkanmu demi masa depanku bersamanya, walaupun nantinya kau akan mengantarkanku dengan doa restumu.

Bunda… tubuhku gemetar, menggigil. Rasanya ber ton-ton barbel dijatuhkan ke atas kepalaku. Bodohnya aku. Rasanya aku pantas disebut anak yang tidak berbakti. Bagaimana mungkin aku menjadi makhluk paling egois. Ketika aku sakit, kaulah orang yang pertama kuhubungi. Ketika aku dihadapkan pada masalah, kaulah orang pertama yang kucari untuk membantuku. Kau ada dalam susahku, namun aku tak ada di saat dukamu.

Aku lupa mendengarkanmu. Lupa menanyakan kabarmu, lupa dengan kesehatanmu, lupa akan hal-hal yang selalu kau ingat untukku. Aku lupa, Bunda. Sedangkan kau tidak…

Hari ini, untuk pertama kali kesadaranku sebagai anakmu menghantam hati dan otakku. Air mata mengalir pun aku tak peduli lagi. Meski aku terisak hebat, aku tak peduli lagi. Bahkan aku tak pernah begini di setiap hari yang fitri dimana aku dan saudara-saudaraku memintakan maaf dan ridhamu. Aku tak peduli… aku tak peduli… aku berlari…

“Assalamualaikum, Bunda.” Ku peluk dirimu dengan seluruh penyesalanku. “Maaf kan aku…” Harum tubuhmu pun telah kulupakan. Harum tubuh yang menemaniku di saat aku merengek minta ditemani dalam tidur malam-malamku.

“Bunda selalu memaafkanmu, bahkan sebelum kau memintanya.” Lembut kau memelukku. Telaga apa yang kau punya Bunda? Seluas apa hatimu yang selalu memberikan ruang maaf untukku?

“Duduklah di sini, sejenak saja… sebelum adzan maghrib berkumandang, temani Bunda.” Lalu…mengalirlah kata-kata yang membuatku semakin tergugu…

“Orang tua akan sangat bangga dan bahagia jika anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang mulia.  Pribadi yang berguna untuk orang lain. Bukan hanya untuk diri sendiri, keluarga ataupun orang tua…”

“Bunda ingin sekali menjadi guru yang baik untuk anak-anak Bunda. Kalian adalah amanah dari Allah. Amanah yang akan dimintai pertanggung jawabannya kelak. Menelantarkan kalian adalah berarti menelantarkan amanah dan kepercayaan Allah, dan mendidik kalian dengan pendidikan yang benar berarti mengangkat derajat orang tua dan anak di syurga, Insya Allah…”

Jadi… tidak sedetikpun Bunda merasa harus menahan kalian disisi Bunda jika ada yang lebih membutuhkan kalian. Cukuplah Bunda merasa sangat dibutuhkan ketika kalian masih kecil. Bagaimana tangan-tangan kecil dan mungil menggapai-gapai minta digendong. Mengadu kalau ada yang nakal, minta dimasakin makanan kesukaanya, manja kalau lagi sakit. Itu adalah hal yang tidak akan pernah tergantikan…”

“Bunda ingin sekali… semua anak-anak Bunda tidak menyia-nyiakan kepercayaan Bunda. Bunda telah mempercayakan kalian untuk menafkahi istri, taat pada suami, dan mendidik anak-anak kalian sendiri. Walaupun dengan itu kalian akan berada jauh. Tapi… jika kalian mampu menjalankan amanah itu, Bunda tidak akan pernah meminta kalian untuk terus ada di sisi Bunda. Bunda akan cukup bangga dengan itu…”

“Dimanapun kalian berada, sejauh apapun jarak antara Bunda dan kalian…. kalian tetap anak-anak Bunda, yang akan selalu terikat dengan ikatan darah, cinta dan kasih sayang… Hingga Allah ridha telah mengamanahkan kalian pada Bunda.”

Adzan mangrib pun berkumandang. Dan semakin deras airmata megalir… Ternyata aku sedang berhadapan dengan wanita mulia yang kasih sayang dan ilmunya tidak akan pernah mampu kubayar dengan apapun. Beruntungnya aku memiliki ibu sepertimu…

“Bunda… mari kita sholat berjama’ah.. dan kali ini injinkan aku menjadi imam dalam sholatmu…”

“Rabb… Aku bersyukur kepada-Mu atas kebaikan yang telah Engkau berikan kepadaku dan kebaikan yang telah Kau berikan kepada orangtuaku dan berikanlah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku.

Rabb… Jika aku meminta, maka aku meminta kebaikan yang tidak pernah putus untuk orang tuaku. Sayangilah mereka  dengan kasih sayang yang berlipat ganda… melebihi kasih sayang mereka kepadaku…”

———–

Lama setelah kau pergi… banyak titik cerah yang menuntunku memahami dirimu. Walau ini sangat terlambat, aku bersyukur, tidak sedetikpun aku menyesal menjadi salah satu permata yang kau sayangi.

Walaupun aku kehilangan sosok ayah, kau melengkapinya dengan sempurna…

Kau

adalah samudera terluas tanpa bandingan

melimpahiku dengan rasa yang ku coba mengerti mengapa

menaungiku dengan atap indah yang kau bangun dengan kokoh

menghangatiku dengan selimut yang kau rajut dengan lembut

dan mengingatimu adalah kerinduanku

mengaliri mata dengan bayanganmu

betapa masa lalu itu adalah kenangan

dengan setiap adegan yang telah terhapus tanpa ku minta

ingin ku rengkuh kembali

tapi hanya masa kini yang bisa ku dekap

sejuta kata mungkin akan percuma

seribu ikat mawar mungkin tidak akan bermakna

walau seluruh taman dunia kususuri

dan kukumpulkan rangkaiannya dalam jemari

jika malam telah tiba

kuhampiri wangi tubuhmu, kugapai dekapan hangatmu

meski tak lagi bersama namun tak akan lekang kenanganku akan dirimu

hingga saat ini pun ku merindukanmu…

Bunda…

Bunda… Jika senja datang menghampiriku, aku akan berada di teras rumah ini. Dengan secangkir teh dan penganan kesukaanku. Akan ku ceritakan pada anak dan cucuku, dulu kita sering menghabiskan senja di sini. Menatap kupu-kupu yang menari-nari di kelopak mawar dan melati. Duduk di kursi yang sama, dan mengingat kebersamaan kita.

Bunda… untuk semua kasih sayangmu… aku menyayangimu.

Iklan
h1

Ramadhan -1

21 Agustus 2009

Sepi. Di kantor cuma ada beberapa orang. Suasana kantor yang biasanya hampir kayak pasar jadi sepi kayak jalanan di kampung jam 12 malam. Yang biasanya rame dengan kegiatan ejek-mengejek mendadak jadi nggak semangat.

Iya, kebanyakan pada mudik pra puasa. Menyambut  bulan puasa bersama keluarga tercinta. Dan lagi, suasana kota hari ini juga kelihatan sepi. Mungkin semua lagi kerja bakti di rumah. Mulai dari bersihin rumah, bantuin ibu masak masakan special, sampe membersihkan diri sendiri 😀

Kok tiba-tiba aku jadi rindu keramaian di kantor. Nggak sunyi senyap kayak sekarang sampe mau gangguin orang pun jadi nggak semangat. Tapi bagus juga sih untuk latihan buat bulan puasa, menghindari obrolan yang nggak penting. Memperbanyak diam.

Hiks…hiks… kok kayaknya ada yang kurang ya… biasanya aku udah pulang kampung, bantuin ibu tercinta masak, bersih-bersih, silaturahmi sama tetangga. Pasti satu kampung lagi semangat-semangatnya menyambut puasa. Dari jalanan tercium bau harum masakan ibu-ibu. Menasah dan masjid di bersihkan sampe lantainya mengkilap. Sajadah di jemur buat dipakai shalat Tarawih malamnya. Mendadak kampung jadi keliatan lebih bersih daripada biasanya. Ramadhan memang membawa aura keindahan dan semangat tersendiri. I miss it… hiks…hiks…

Come on friends… don’t let me alone here. Cepetan balik. Balik dengan suasana dan semangat baru. Biar kita bisa jama’ahan di mushola sebelah, dengerin kultum, tilawah, buka puasa, nyari sebanyak-banyak pahala dengan amal shalih di bulan mulia ini. Endah, K’Ponk, k’Rosa … Cepetan balik kantor ya…

Buat semuanya, maafin dosa-dosa nl ya…

h1

Kakak… Catatanku tentangmu…

18 Agustus 2009

:)Yang ku ingat tentangmu…

Ini agak susah, bukan susah dalam artian aku nggak suka melakukannya, tapi susah dalam mengungkapkannya… Mengingat semua tentangmu, tentu aja dengan semua kelebihan dan kekuranganmu (tenang aja… yang akan ku tulis di sini semua tentang kebaikanmu, tapi kalo ada yang nyelip nggak pa-pa kan ya…hehe…). Tapi akan kucoba, sesuai dengan batas memoriku yang bisa menyimpannya, yaa.. agak terbatas sih sebenarnya. Yang pasti, sungguh menyenangkan bisa mengenalmu.

Pertama yang kuingat tentu saja namamu. Dan namamu itu sekarang melekat kuat di internal memory otakku. Nama yang nggak akan bisa ku delete begitu saja, walaupun nama-nama yang lain terus berdatangan dan harus disimpan di memori itu.

Yang kedua adalah wajahmu. Wajah yang selalu tersenyum dan memamerkan ketulusan hati (ada senyum misteriusnya juga lho). Atau kadang-kadang tertawa (tertawa di sini banyak jenisnya. Mulai dari ketawa karena berhasil mengejek orang lain, ketawa karena ada yang lucu, dan kadang-kadang ketawa karena kesel sama orang – kok bisa ya?). Ada juga ketika wajah mu itu terlihat sendu (tenang… nggak akan muncul di sini kisahnya). But it’s ok… soalnya dilihat dari sisi manapun wajahmu tetap terlihat sempurna… (kan ciptaan Tuhan, ditambah dengan perawatan wajah, jadilah semakin rupawan 😀 )

Ketiga, tentu aja tingkah lakumu (tenang, pokoknya , yang baik-baiknya juga yang akan kuceritakan). Ini jadi bagian yang paling menyenangkan. Kapan ya aku nggak pernah nggak menikmati itu… saat bersama ke pantai, padahal cuman nonton yang lain main kasti. Atau sekedar menikmati indahnya sore di pinggir sungai. Atau makan kerang rebus, mie Bang Baka, pulang kantor sambil jalan kaki (kalo lagi ‘kuat’ nyari rute yang jauh). Kadang-kadang jadi kurang kerjaan juga…

Yang ke empat, (jujur… yang ke empat ini belum tahu apa yang mau ditulis… pikir dulu ya…hehe…)

Selebihnya… aduuuuuhhhh…… Brastagi, Toba, Tuk-Tuk, Takengon… banyak sekali kenangannya.  Gimana cara nulisnya satu-satu ya… Terakhir… Malaysia…Singapore… Sekamar berdua (halah…halah…). Nyari Petaling Street, padahal nggak taunya malah nginap di kawasan itu. Jalan kaki nyari Twin Towers…hehehe. Aduh kak… nggak akan terlupakan kenangan bersamamu. 

Fauziah (Ngutip lagunya Brother nih, “… Kenangan bersamamu, tak kan ku lupa. Walau badai datang menghadang. Walau bercerai jasad dan nyawa…”)

Waaaaaahhh… so many things about you. Senangnya bisa kenal denganmu. Pasti itu. Gimana bisa ya, cuma dari saling liat-liatan aja kita bisa ketawa (what kind of chemistry is it ???) Banyak yang tersampaikan dari lirikan mata (lirikan matamu… kayak lagunya A. Rafiq gitu).

Yang ke Lima, lagi-lagi tentang kebaikanmu. Nggak pernah bosan dengerin keluhanku. Nggak pernah bosan menghiburku, nggak pernah jemu menanggapi tingkah lakuku yang kadang membosankan. Apalagi dengan senang hati berbagi kebahagiaan menjadi sakinah mawaddah wa rahmah 😀

Ada juga edisi seru tentang BM dan BDJ. Janjian ke PR berdua tapi nggak pernah kesampaian, banyaaakkkk…

*Sambil menitikkan air mata* … Terima kasih ya kakakku tercinta. Semoga apa yang telah kau beri dan lakukan untukku mendapatkan balasan yang lebih baik dari Nya. Amin.

 

Special for K’ Ponk

h1

Cerita Pagi

18 Agustus 2009

Alhamdulillah… Aku masih menikmati pagi hari ini. Setelah mengerjakan ibadah shalat  subuh, seperti biasa ku buka pintu selebar-lebarnya hanya untuk melihat paduan warna di langit pagi yang luar biasa. Selalu saja ada ketenangan yang hadir ketika ku memandanginya. Sekali lagi… Alhamdulillah… tidak ada ciptaan-Mu yang sia-sia.

Dan seperti biasa, ku berikan senyum pertamaku di pagi hari ini untuk mega yang masih malu-malu membiaskan sinar mentari ke wajahku. Sebelum nantinya berganti dengan kehangatan yang dipancarkannya atau berubah menjadi mendung kelabu.

“Ya Allah, terimakasih atas kebaikan yang  Engkau berikan kepadaku dan kebaikan yang Engkau berikan kepada orang tuaku. Dan berikanlah aku kebaikan yang akan mengalir hingga ke anak cucuku. Sungguh, hanya kepada Mu aku bersyukur.”

Rasanya, ingin aku berlama-lama memandangi langit pagi. Hanya duduk sendiri dan menyendiri. Tidak direcoki atau bahkan dihantui dengan kesibukan dunia. Lagi-lagi hanya memandangi lukisan mahakarya Sang Pencipta yang tak tertandingi oleh siapapun.

Ditemani udara yang masih bersih dan embun pagi di pucuk daun dan rerumputan, ingin rasanya aku berbaring di permadani alam. Tidak peduli hiruk-pikuk kehidupan yang sering kali menyesakkan.

Alhamdulillah… Betapa rasanya karunia alam ini mampu membantuku melupakan keluh kesahku. Mampu menyemangatiku agar memulai hidupku di hari ini dengan keindahan. Ahh… cemburunya aku pada seniman-seniman alam.

Namun sayang, keinginan itu harus diakhiri. Aktivitas dunia telah menungguku. Entah apa yang menantiku di dalamnya. Hitungan materi, hubungan sosial yang harus ku rajut dan ku perbaiki, dan seribu satu perasaan dan emosi yang harus ku tingkahi.

Lalu, ku ucupkkan selamat tinggal pada langit pagi hari ini. Mudah-mudahan keindahan ini masih bisa ku jumpai esok hari.

h1

Untukmu…

14 Agustus 2009

Tulisan ini khusus untukmu…..

Berawal dari kosongnya meja di sebelah meja kerjaku. Aku mengajakmu menemaniku di dalam ruangan ukuran 3 x 3 meter (mungkin lebih kecil lagi). Anehnya kau pun langsung setuju. Huaa… you’re the best deh pokoknya. Mungkin dari 20 orang yang ku ajak, cuma dirimu yang mau kak. Tau kan kenapa???

Alhamdulillah… perjuangan batin yang kurasakan akhirnya agak sedikit berkurang dengan kehadiranmu di ruangan ‘gudang’ kita. Akhirnya….. ada seseorang yang bisa mengimbangi ‘beliau’ ngomong. Di mataku, dirimu adalah pahlawanku 😀

Hhhh…. Kapan ya  ‘gudang’ kerjaku sepi. Mana ‘beliau’ datang lagi hari ini. Padahal beberapa hari ini kan udah terasa aman, tentram dan nyaman. Sampe ruangan di sebelah pun terimbas efek bahagianya. Damai. Tapi sayang… Kedamaian itu berakhir hari ini. (Hari ini, hampir semua yang di kantor mendoakan pesawat jurusan JAK-BTJ mengalami delayed. Nggak tanggung-tanggung, delayed nya 3 hari. Asal aja).

Kembali lagi ke dirimu. Yaaa… sejak ada dirimu, supply makanan terjamin. Mulai dari cemilan sampe makan siang. Kadang-kadang di tambah ‘nasehat’mu yang sering bikin aku geleng-geleng kepala… Aduh kak… Dirimu kan psikolog kak. Tapi kok malah sering berbagi cerita ya. Trus ceritanya tentang suami tercinta lagi.

“Kami mau candle light dinner nih malam minggu” (Info terakhir: nggak jadi candle light dinner. Suami tercinta ke JKT)

Atau, “Aduh… suamiku besok pergi lagi. Ditinggal sendiri lagi” (Hhhhhhhh……)

Nah. ini yang terbaru. Dia nunjukin sms buat suaminya. Isinya (uda ijin buat di masukin kesini): “Sweetheart, My prays always with you. Work your life for living, be the best as you can be. I’ll be here waiting, always, for the rest of my life”. (halah…halah… bikin ngiri aja. Pengantin baru ya begitu….)

Just Married

🙂 anyway… I’m glad to know you. Lucu, walaupun sering nyeleneh plus agak sedikit ngeyel. Untuk semuanya, from the bottom of my heart, thank you ukhti… 🙂

special for Rossa

h1

Tentang Alam Yang Ku Rindukan

13 Agustus 2009

Senja itu, pelangi begitu berwarna. Cemerlang dengan kepakan camar yang beriringan ke selatan. Menambah kuasa Tuhan yang dilukiskan pada alam. Bergandengan dengan cahaya kunang-kunang, menanti bintang menemani bumi dalam gulitanya. Perlahan, gerimis datang menghantar lembayung senja. Tetes demi tetes meninggalkan bekas pada hamparan pasir putih. Di sela hempasan ombak yang menyentuh pantai, melewati riak-riak gelombang di tengah lautan.

Ini adalah alam… Ini adalah sisi kehidupan yang di anugerahkan tanpa perlu di hindarkan…

Bahkan karang dan tebing merelakan diri dihempas ombak. Mengikis sedikit demi sedikit bagian dari dirinya. Namun tetap setia bergandengan dengan lautan biru. Menemaninya dalam gelap dan terang.

Ini adalah alam… yang selalu menjaga keseimbangan sesamanya.

Dan rumput, ilalang, bahkan semak belukar tidak pernah bersedih melihat mawar dan melati menghiasi taman-taman asri. Berdampingan meramaikan gerimis senja. Dengan bunga yang bermekaran atau hijau daun yang berguguran… Ini adalah alam… yang di ciptakan Tuhan dengan penuh keindahan.

Dan kita… adalah bagiannya. Menjadi pelaku dan pemimpinnya.

Aku… Menamai hening karena sepinya

Mengenali padang pasir karena fatamorgana yang tercipta padanya

Mendengar gemericik air karena jernihnya

Dan mencandai bulan karena sinarnya lembutnya.

 

Sungguh… ini adalah alam, yang dititipkan pada kita untuk menjaga dan memeliharanya.

Kita mengerti… jika ternyata angin yang berhembus terkadang menyapa dan menegur kita. Jika riak dan gelombang air pun terkadang ikut mengingatkan kita. Dan tanah serta api pun tak pernah alpa memberi hukuman dan kemudahannya untuk kita. Ini adalah alam… yang tidak pernah menunggu untuk menjalankan perintah Tuhan…

———————————

Ada yang datang, mengunjungi langit yang biru bersih. Ternyata dia adalah awan kelabu yang hendak menaungi bumi deri terik matahari. Mengembun, lalu meneteskan butir-butir airnya yang sejuk. Ada yang pergi. Bernaung di balik rindangnya pohon, berlindung di balik batu dan karang. Membiarkan rintik air hanya membasahinya sedikit saja. Membiarkan rumput dan ilalang menikmati sepuasnya. Tanpa perlu ragu akan habis tanpa dia akan terbagi.

Di sinilah kita berada. Di tempat yang di kelilingi persahabatan dan keramahan. Di bentengi hijaunya bukit dan luasnya samudera. Namun sayang… semuanya hampir hilang. Musnah dan sirna kadang tak berbekas.

Di Eropa Timur, mahkota yang dulu berkilauan kini telah kusam. Di Benua Hitam, kekeringan meraja merelakan debu mengangkasa. Dan di tanah ini, tanah yang subur dengan peraduan edelweiss di puncak Semeru, ada banjir yang datang tanpa tanda-tanda. Mawar dan melati menjadi layu, dan sungai yang seharusnya bermuara ke laut telah kering sebelum sampai ke tujuan. Satu persatu jati, pinus dan cemara tumbang tanpa harus di gerus jaman. Dan untuk kesekian kali pasak-pasak raksasa ingin segera memuntahkan laharnya.

Dan aroma itu… aroma segar yang di rangkul angin berganti bau asap yang menakutkan. Langit pun menjadi enggan untuk terus bersahabat dengan burung-burung bermesin yang lalu-lalang. Gurita tenggelam. Perahu karam. Menyimpan harta dan kenangan di balik pasir dasar samudera.

Di negeri seribu satu malam, kisah cinta sang pujangga berganti kisah muram pemimpin yang berarkhir dengan nestapa. Di negeri Palestina, darah dan air mata menggenangi ruas jalan tanpa belas kasihan zat-zat kimia. Namun masih ada juga semangat yang bertahan. Ketika di negeri para Mullah, reruntuhan menjadi tonggak sejarah berdirinya kerajaan megah. Mengembangkan reaktor dahsyat yang bersahabat dengan alam. Tidak ingin dikalahkan oleh kebodohan dan kemalasan.

Sungguh… ada banyak keseimbangan yang timpang. Cacat bertahun-tahun yang tidak bisa disempurnakan. Seperti lingkaran yang tidak berujung pangkal. Rawa gambut, limbah beracun, lahan tandus. Entah mengapa semakin jarang ada pucuk pinang yang bermayang.

Telah diperingatkan, jangan berbuat kerusakan jika tidak ingin ada kehancuran. Buatlah kebaikan agar ada kedamaian. Telah banyak gajah yang kehilangan gadingnya. Telah banyak harimau, singa, buaya dan bahkan ular yang dibunuh demi kulitnya. Kepuasan dan keindahan yang elegan. Itulah alasan perburuan.

Ini adalah alam… jangan berbantahan jika dia memberontak.

Semenjak itu, hijau daun hanya bisa dilihat jika mendekat. Tertutupi debu. Jernih air tersembunyi di balik bukit yang harus ditempuh jauh. Yang terjangkau telah tercemar hingga menahun. Hingga di rimba raya, kantil dan kenanga raib tanpa kamboja.

Dan aku Bersama hening karena gersangnya

Menjejaki gurun karena tandusnya

Menimba air dari rawa payau karena keringnya

Dan hampir mengkhianati matahari karena teriknya

 Semakin banyak titik-titik hitam yang beterbangan di langit. Sesekali menukik tajam seakan hendak menghantam bumi. Lalu kembali membentangkan sayap dengan tetesan darah di paruhnya. Gunung-gunung es, tak ingin lagi membekukan diri. Ikut melebur bersama samudera. Meluap hingga daratan akhirnya tenggelam. Dan yang tersisa hanyalah puncak Himalaya.

Sawah ladang, semua berganti dengan etalase mewah atau pabrik yang sangat berisik dengan deru mesin penghancur. Berteman mesra dengan narkotika dan taman ganja yang terlihat subur. Bergandengan erat dengan bubuk mesiu serta laras panjang dan senapan otomatis yang mematikan.

———————————

Pasrah sudah… Tak sanggup ku susun batu dan baja beriringan. Tak sanggup ku sapu benua dari ceceran sampah. Dan tak sanggup ku aliri sungai lewat selang pipa plastik yang rapuh. Tak kan mampu ku gali lautan jernih agar kehidupan baru hadir di sana. Tak kan mampu ku pasang pasak besi agar bukit tetap berada di tempatnya. Tak kan mampu ku angkat daratan agar tak terbenam lautan. Bahkan ku tak mampu walau hanya sekedar melangkahkan kaki di tanah yang tak rata.

Tuhanku…

Ini aku…

Merangkaki bumi Mu lagi…